BMKG Nabire : Penyebab 2 Minggu Terakhir Cuaca Kota Nabire Berawan Tebal Tetapi Hujan Lebat Tidak Turun

Berdasarkan data observasi pengamatan 2 minggu terakhir pada Stasiun Meteorologi Nabire, tercatat bahwa kota Nabire dominan terjadi cuaca berawan tebal dari pagi hari hingga malam hari maupun hingga dini hari. Hanya di hari-hari tertentu saja saat sore hari ataupun malam hari yang turun hujan, itupun hanya berupa hujan gerimis dengan durasi singkat, setelah itu hujan tersebut hilang dan cuaca kembali tetap berawan tebal lagi.

Keadaan dinamis atmosfer seperti analisis SST & anomali SST, Track MJO, OLR, tekanan udara dan pola angin yang terjadi selama bulan April 2019 cukup mempengaruhi pola distribusi curah hujan di wilayah Nabire. Keadaan dinamis atmosfer tersebut pula yang menyebabkan pergerakan massa udara dalam pembentukkan serta penumpukkan awan-awan konvektif di wilayah Nabire.

Awan tebal yang terjadi bersamaan kecepatan angin pada lapisan tersebut juga cukup kencang. Kejadian ini yang menyebabkan ketika butiran-butiran hujan yang terbentuk pada awan-awan tebal dan ingin jatuh ke permukaan bumi pun terhalang oleh kecepatan angin yang cukup kencang tersebut. Keadaan ini yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mengapa wilayah Nabire selama bulan dua minggu terakhir selalu berawan tebal tetapi tidak turun hujan lebat.

Pola curah hujan ekuatorial menjelaskan bahwa pergerakan curah hujan pada wilayah Nabire dari bulan April ke bulan Mei, Juni & Juli terjadi penurunan curah hujan. Ini menandakan wilayah Nabire telah memasuki masa pancaroba atau masa transisi. Masa pancaroba adalah masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau.

Kelembaban udara pada lapisan 850 mb di atas wilayah Nabire, kelembaban udara bernilai 80 – 90 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada lapisan atas udara cukup basah pada rentang waktu pertengahan hingga akhir bulan April 2019. Kondisi udara basah tersebut sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif di sekitar wilayah Nabire.

Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan cumulus (Cu) & awan cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-56) s/d (-62) 0C, yang berpotensi menimbulkan hujan dan cuaca buruk lainnya.

Eusebio Andronikos Sampe, S.Tr/BMKG Nabire

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code